Rabu, 06 Februari 2013

indahnya berpasangan



sepasang  bola mata.
pemandangan, perhatian, presepsi.

dari mata, pandangan itu terjatuh.
.
dari mata pula perhatian itu ada.

dan dari mata juga, presepsi itu terbentuk

mata selalu ada sepasang, kiri dan kanan.

ibarat kita.

berpasangan.

saat mata kiri sakit, apakah mata kanan pergi?
tidak. bahkan mata kanan terkadang sakit juga.

itulah pasangan yang hebat. seperti sepasang mata.

suka duka, selalu bersampingan.

ya, sepasang bola mata.
begitu indah, bola matamu.

(AYR)


Senin, 04 Februari 2013

Tuhan kau luar biasa


  

 -Bogor depok, Senin 04 februari 2013. Stasiun bogor, pukul 10.12 wib. Dengan celana jeans lusuh dan kaos lengan pendek. Mataku memandang kesegala arah.
Hanya ada KRL ekonomi di dalamnya.
Terik matahari yang seketika redup, tertutup awan teduh. Membuat ku ingin merasakan KRL ekonomi itu.
Papa, seorang superhero dirumah ku. Melarang keras aku untuk menaiki kereta itu.
Semakin dilarang, semakin penasaran yang aku rasa.
Selama ini naik commuter line flat, naik duduk dan ga ada yang berbeda.
Hanya orang berdasi dan berkemeja di dalamnya.
Setelah beli tiket, ku bergegas menaiki ular panjang yang akan segera di berangkatkan itu.
Aku berjalan menelusuri gerbong panjangnya, yah begitulah.
Tatapan ku nanar, awalnya aku tidak sama sekali nyaman.
Sampai akhirnya aku berdiri di pinggir pintu terbuka KRL ekonomi itu.
Mataku menelusuri isinya, mungkin orang pun melihat aku asing.
Aku berusaha untuk menyamankan diri.
Ada apa dengan kata 'ekonomi' ? Apakah ekonomi selalu berkaitan dengan berantakan dan tidak tertib?
Sungguh miris, di dalam commuter line. Mungkin satu gerbong ada 3 petugas untuk menjaga keselamatan penumpang.
Tetapi di ekonomi? Tak ada sama sekali.
Apakah yang ekonomi berarti tidak ada penjagaan?
"Semua penumpang menjaga keamanan dirinya masing masing"
Itu yang terlintas di fikirku.
Setelah kereta mulai jalan, sekitar 40 menit perjalanan menuju stasiun UI.
Ku membuka handphone dengan sangat hati hati. Aku pun mengerti dengan tindak kriminal dalam sini.
Playlist mp3 ku memutar lagu Van Hallen - i cant stop loving you.
Luar biasa, dengan pintu yang terbuka.
Angin yang kencang.
Perpaduan musik dan suara khas dari KRL ekonomi.
Membuat ku merasakan kebebasan yang luar biasa.
Hamparan sawah dan rumah penduduk memanjakan mataku, walau agak berantakan. Namun ini lah indonesia :D
Membuat ku ingin segera sehat dan menuju pulau jawa dengan ular besar ini.
I cant stop loving you :D untuk manusia yang terpaksa tersesat di Semarang. Karena roda akan kehidupan yang selalu memberi pelajaran.
Playlist ku berganti, mata ku beralih ke dalam isi kereta kembali.
Kali ini, mataku di manjakan oleh sepasang anak jalanan yang sedang tertawa terbahak bahak akan lelucon satu sama lain.
Senyum ku tersimpul, mereka.
Melihat dan mendengar tawa bahagia dari seorang anak jalanan.
Hati ku terketuk.
Mereka kategori kekurangan, tetapi? Tawa mereka mengalahkan aku yang diberikan kelebihan.
Mereka bebas, bagaikan kupu kupu yang akan kemana saja hinggap.
Tapi? Seketika mata ku berpaling.
Ada 2 orang tuna netra yang sangat sudah renta.
Yang depan seorang pria, memegang mix dan tongkat dan yang belakang seorang wanita mengalungkan speaker sambil memegang pundak pria tuna netra di depannya.
Mulut ku menganga di buatnya, pintu kereta ini terbuka.
Berjalan kencang, mereka tak melihat? Sungguh keamanan yang tak terjaga.
Perlahan 2 tuna netra mendekat ke arah ku, ku rogoh saku untuk mengambil beberapa ribuan.
Subhanallah, mereka menjalani hidup dengan kekuatan yang luar biasa.
Lepas mereka pindah ke gerbong sebelah.
Aku kembali di kejutkan dengan anak kecil yang berteriak teriak kepada seorang pedagang buku.
Ada apa?
Iya, anak itu menginginkan buku itu.
Ku hampiri, jujur aku takut.
Anak itu kecil, sekitar 6tahun. Tapi tindakannya menyeramkan.
"ada apa de?" tanya ku perlahan.
Anak itu menatap ku, tajam.
Seakan hatinya mengalami titik beku karna kemarahannya.
Aku takut dan menelan ludah.
Dia menjawab "gua mau buku itu. Mau mewarnai"
Aku tersenyum, ku beli kan 4 buah buku mewarnai itu.
Tiba tiba anak itu melompat dan memelukku.
Aku shock karena saat itu aku takut.
Debu debu di wajahnya menempel di handbody tangan ku.
"ko lu baik banget, emg kenal gua?" katanya tanpa sopan santun.
Aku mengerti, keadaan yang membuat pemikirannya seperti itu.
Ku tersenyum kembali, "gak papa ko. Sana gih warnain"
Dia berlari ke arah gerbong sebelah.
Saat itu, semua mata orang dalam gerbong mengarah kepadaku.

Ada seorang TNI di samping ku, dia mengajakku berbicara.
Sampai akhirnya pendapat ku tersampaikan padanya.
Akan kata 'ekonomi' yang selalu berkaitan dengan ketertiban yang kurang.
Dia menanggapi ku dengan penjelasan yang luar biasa.
Yang bisa ku simpulkan
"mungkin nanti aku lah yang merubah pemikiran ku itu di masa depan ku"
Tak lama ada anak bertopi merah yang berumur sekitar 5 tahun. Dengan kondisi fisik yang membuat ku miris.
Dia berjalan mengesot di lantai kereta.
Iya, kaki nya tak ada.
Aku tak kuat melihatnya lama lama.
Lama lama mendekat.
Ku keluarkan beberapa recehan.
Ku angkat topi anak itu. Kuputar topi nya kebelakang.
Senyum ketulusan keluar dari wajah nya.
Aku pun membalas senyumannya.
Sampai akhirnya mataku melepas nya berjalan ke gerbong sebelah.
Ku nikmati kembali lagu lagu dalam playlist ku.
"de, mau duduk"
Ucap seorang bapa paruh baya padaku.
"tak usah pa, saya hanya sampai UI." beliau tersenyum.
Di stasiun bojong gede.
Kembali dikejutkan dengan naik nya 4 orang kakek kakek cina jawa.
Yang kulitnya sudah keriput dan mengerut yang hanya melapisi tulangnya.
Bukan hanya itu, ke empat kakek itu membawa 2 bakul berisi kan buah buahan masing masing nya. Sangat berat pasti.
Aku yang di pinggir pintu bingung harus berbuat apa. Kereta hanya berhenti 2 menit dan ke 4 kakek itu kesulitan menaikan bakul bakulnya.
Terlihat  pria pria dalam kereta keluar membawa bakul bakul itu.
Dan kereta jalan, pemuda pemuda itu lari mengejar gerbong ini.
Di dalam, ke 4 kakek merapihkan bakul agar tidak mengalangi jalan.
Di bantu dengan orang orang dalam gerbong.
Lalu, setiap pintu di tutupi oleh tubuh tubuh pria muda.
Aku agak risih.
Aku bilang "mas, saya pengap."
"Ngga ka, ini sudah tradisi kereta ekonomi.
Kita melindungi wanita dan orang tua yang ada di dalam kereta.
Karena kereta sudah penuh sesak.
Takut ada orang tua atau anak anak yang terlempar keluar" Penjelasan salah satu pemuda.
Aku diam. Luar biasa.
Pemikiran ku yang tadi adalah "penumpang menjaga keamanannya masing masing" seketika berubah menjadi "penumpang menjaga keamanannya dan satu sama lain"
Ini lah kereta ekonomi.
Solidaritas mereka begitu tinggi.
Sedangkan commuter line? Sering sekali kejadian terjepit pintu otomatis. Itu karena apa? Karena ke egoisan masing masing.
Sampai tiba di stasiun ui, aku turun.
Terdengar suara pemuda "hati hati ka, sukses kuliahnya"
Aku membalikan badan dan tersenyum padanya.
Kereta berjalan kembali. Tiba tiba di pinggir pintu kereta. Nongol anak si topi merah itu dan berteriak.
"kakaa terimakasih. Hati hati ka"
Luar biasa tuhan. Engkau ciptakan manusia yang luar biasa.
Dengan segala kenikmatan yg ku berikan padaku. Dengan pengalaman dan keindahan yang kau berikan hari ini.
Aku dapat mengerti dan kembali melawan kesakitan ini.
Aku adalah orang yang beruntung. Dengan segala kesempurnaan yang kau berikan tuhan.
Terimakasih.
Atas kuasa mu hari ini.
(AYR)


Sabtu, 02 Februari 2013

Mata itu, mata tenangku

oh tidak, ayo kita bersaing kreatifitas. aku dengan tulisan, kamu dengan gambar.
tapi, bukan kah gambar dan tulisan jika di gabung akan menjadi lebih indah.

sambil membaca, dan melihatnya.
seperti saat aku menatap matamu.
lebih indah. membaca dan melihatnya.

Satu pasang mata, yang menawarkan aku ketenangan. Saat memandangnya.
Iya, mata kamu.

My house is your heart :)

ingat aku bernafas di dada mu. di dalamnya ada ceruk dadamu. ya, itu rumahku.
terdengar kah nafas ku di ceruk dadamu?
nafas itu, seakan mengetuk pintu.

pintu rumah ku. pintu hatimu

Sabtu, 12 Januari 2013

01-01-2013


this is 2013!!!!
yak! itu kembang api pukul 00.05 wib tanggal 01-01-2013

kembang api itu, menandakan kita semua sudah ada di tahunnnnn 2013!! hore
dan berarti umur gua 19 tahun! hore!!

hahahaha seneng nya, tp bertambah tua!
tapi biarlah

umur itu hanya angka, jiwa tetap muda!

ulanng tahun ke 19.

dahsyat!!! dikerjain habis habisan sama sekeluarga. dan di telfon sahabat selama 3 jam.

ucapan yang membeludak di fb twitter whats app line atau sms

dan ledekan akan angka 19 hahha

tanggal 02-01-2013
gua nya UAS guys!
hahaha kebayang kan?
kebayang banget lah hahahha

di 2012 gua dapetin sesuatu yang sangat berharga
yaitu : arti sebuah kepercayaan

dan di 2013 awal ini insya allah memulai lembaraan baru.

yakin, tuhan mempunyai rencana yang indah kepada setiap hambanya.

resolusi di 2013. banyak banget.

dan, insya allah dengan umur yang menua dengan baik ini. maka akan menjaankan resolusi tersebut.

terutama tanggung jawab kepada tuhan yme.

2012 terimakasih sudah memberi segelintir kenangan manis asem asin dan membuat saya belajar dan mengambil hikmahnya.

2013 selamat datang! :) kita awali dengan bissmilah. membuka buku baru. dengan awal. dan resolusi-resolusi yang bermanfaat. semoga 2013 memberi pelajaran yang lebih dari 2012. amin


happy new year!! and happy birthday 19th for me :))

2013. bissmilahirahmanirahim :)

(AYR)

Sabtu, 22 Desember 2012

PETIR


Petir
Di tepi jalan yang penuh dengan sorotan lampu kota Jakarta, aku duduk di trotoar yang dipenuhi oleh penjual minuman hangat dan dingin yang menggunakan sepeda tua untuk membonceng keranjang peralatan jualannya.
            Pada arah jam 5, ku lihat pula seorang ibu yang tengah menggendong bayi yang ku perkirakan berusia sekitar 7 bulan. Ia memandang lemah ke lampu-lampu Jakarta di malam hari. Ku hampiri ia, dan ia menatapku penuh harapan.
“ dik, anak ini sedang sakit. Tolong bantu ibu untuk membelikan obat untuknya.” ratapnya penuh harap.
            Ku rogoh kantongku, hanya ku temukan uang lima ribu rupiah. Namun ada yang mengganjal niatku. Aku memerlukan ongkos sebesar tiga ribu rupiah untuk kembali ke rumah.
            “bu, aku hanya memiliki uang 5000. Setidaknya, ini bisa untuk membeli obat generik” kataku.
Ibu itu menatapku penuh haru. Sepenglihatanku, ia tampak ragu mengambil uang pemberianku. Tetapi, aku masukkan ke dalam pangkuan adik kecil yang ada di dalam dekapannya.
“terimakasih, nak” jawabnya, lirih.
            Kemudian aku berpikir, pulang naik apa? Oh, aku lupa. Aku sedang bertengkar hebat dengan ibuku. Mungkin, jalanan inilah tempat tinggalku saat ini. Di mana tempat aku termenung menerima nasib hidupku. Entah nasib, atau takdir.
            Ku buka handphoneku, mencari kontak yang sekiranya bisa ku andalkan saat ini. Berharap ada yang mau menampungku saat ini. Setidaknya, aku tidak seperti debu-debu jalanan di Jakarta ini, yang berterbangan tanpa arah dan tujuan.
“Ra, kamu di mana? Di rumah ga? Bisa nampung aku?”
“iya Re, aku di rumah. Oke, ke sini aja.”
“ga pegang uang sama sekali, bisa jemput aku?”
“oke. Wait a minute.”
Rara, sahabatku sejak aku berada di kelas 2 SMA. Keluarganya sempurna. Ayahnya seorang sutradara, dan ibunya seorang arsitek. Aku iri, sangat aku akui. Tak sebanding dengan aku. Anak dari seorang pria yang hanya bisa membuahi ibuku, dan pergi entah ke mana, dan ibuku yang berprofesi sebagai pedagang roti keliling, yang mencari uang untuk biaya hidup kami selama ini.
            Hanya berdua dengan ibu, aku menjalani hari demi hari. Hingga menemukan ayah angkat, yang saat ini membiayai kuliahku. Panggil saja Pak Gunandi. Ibu berubah, dahulu kami selalu bersabar untuk menjalani cobaan hidup. Kini, kebiasaan ibu setiap hari adalah mencaci maki aku.
            Tak lama, Rara datang dengan senyuman hangatnya. Ia menyuruhku masuk ke dalam Honda Jazznya. Diam, hanya itu yang aku lakukan saat berada di dalam mobil. Sampai akhirnya suara Rara memecahkan suasana.
          "Re, berantem lagi sama ibu lo?”
          “nggak, udah ga usah bahas ibu gua dulu. Gua mumet.”
          “oke gua ngerti. Udah makan? Mama gua buatin spaghetty buat lu.”
          “iya, gua laper”
            Sesampainya dirumah Rara, aku hanya bisa merenung. Kata-kata ibu membuat aku sadar, adanya cairan putih hangat yang mengalir deras di pipiku. “Sombong banget lo! Kita nih orang susah, ga usah begaya jadi anak orang kaya. Pulang bantuin ibu lo ini kek. Jangan mentang-mentang gua ga biayain lo, terus gua ga lo anggep yah!”. Kata-kata ibuku terputar keras dan cepat di kepalaku, seperti kaset rusak. Kata-kata itu terus terputar. Ibu, tidak kah kau mengerti perasaanku? Selama ini aku berusaha apapun demi membantu dan membahagiakanmu. Tapi, kau tak pernah melihat sedikit pun semua perbuatanku itu.
            Hujan turun dengan lebat. Suara petir seolah membelah lautan biru kehitaman di atas kepaku. Dengan kilatnya yang hanya beberapa detik, tapi cukup menggelitik hatiku. Lucu, entah hanya kebetulan atau tidak. Setiap aku dan ibu bertengkar, suara amarah dari langit pun ikut mengiringi pertengkaran kita. Dosa, aku tau dan mengerti, aku pun tak mau melawan ibu. Tetapi perkataan ibu akhir-akhir ini, sangat melukai hatiku.
            “lo makan dulu, Re.” Suara Rara tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
            Dengan sigap ku hapus air mataku. Aku tak suka jika ada orang lain yang melihatku menangis. Sahabatku itu memelukku tanpa basa-basi, kurasakan ketenangan dalam dekapannya. Ya tuhan, terima kasih karena Kau telah hadirkan Rara sebagai sahabat yang bisa memahami apapun masalah yang kulalui. Kulepas pelukannya, dan memakan spaghetty yang jarang sekali aku makan, mungkin tidak pernah aku beli dengan uangku sendiri. Begitu lebih tepatnya.

***

    Pagi ini, aku terbangun dan merasakan kerinduan terhadap Ibu. Aku melihat ke sekeliling kamar, tetapi tak ada Rara. Apakah Rara sudah bangun? Mustahil. Dia wanita yang sangat sulit bangun di pagi hari.
Aku mencoba berjalan perlahan ke arah pintu. Berharap menemukan Rara di luar kamar. Ku raih gagang pintu, dan tiba-tiba..
“SURPRISE!!!!!!! HAPPY BIRTHDAY TO YOU. HAPPY BIRTHDAY TO YOU. HAPPY BIRTHDAY. HAPPY BIRTHDAY. HAPPY BIRTHDAY TO YOU.”
  Astaga, aku lupa kalau hari ini usiaku bertambah. Tanggal 19 di bulan Desember. Tapi sungguh, aku membenci hari yang disebut ulang tahun. Aku tak pernah mendapatkan sesuatu yang spesial dari orang yang ku anggap spesial.
“terima kasih banyak, ya. Beneran deh gua lupa, serius.”
“makanya lo jangan sedih terus, ayo make a wish! Tiup lilinnya!”
Ku pandang Rara, ku tahan gumpalan air mata dalam kelopak mataku. Terpintas wajah ibuku, karena biasanya ibu mencium keningku. “Ya Tuhan, apapun yang terjadi, sesulit apapun cobaan yang kau beri, jangan pisahkan aku dengan ibu dan Rara. Aku sungguh mengingikan dua orang spesial ini mengantarku membuka gerbang kesuksesan”.
            Ku tiup lilinnya, memotongnya dan bergegas berangkat ke kampus hari ini. aku dan Rara satu kampus, tapi tidak satu jurusan. Aku di jurusan Ekonomi sedangkan Rara memilih jurusan Biologi. Sungguh bertolak belakang, bukan?
***
            Dosen ini sungguh hebat. Beliau mengajar dengan cara yang berbeda. Yang membuat aku ingin menjadi lebih dari saat ini. Ya, beliau hanya dosen Agama Islam. Tetapi, entah apa yang membuat ia begitu menarik. Di usia muda, beragama, motivator, dan sukses. Siapa yang tak menyukainya? Hanya saat pelajarannya lah, seluruhnya diam dan mendengarkan.
Namanya Pak Ger, dan beliau belum MENIKAH. Ia mampu membuat pelajaran Agama Islam yang biasanya membosankan, menjadi menakjubkan. Ini tidak berlebihan, sungguh.
            “Tere kamu ulang tahun? Selamat, ya. Semoga selalu di lindungi Allah SWT” ujar Pak Ger.
Yak! Karena beliau adalah Dosen mata kuliah Agama Islam, beliau hanya menempelkan kedua telapak tangannya, dan diletakkan di depan dadanya. Bukan mukhrim, itu alasannya.
“terimakasih, Pak. Semoga bapak juga cepat diberi jodoh, ya. Amin”    Aku pun sama, dengan ala muslimah menempelkan kedua tangan di depan dadaku. Dan meledeknya seperti itu pun sudah biasa, karena kami terbilang akrab.
            Selesai mata kuliah dari Pak Ger, aku mengangkat telepon dari ayah angkatku. Dia  seorang yang sangat baik. Dia bukan bagian dari diriku, tetapi dia mau membiayai sepenuhnya pendidikanku.
Ya, aku tau alasannya. Dia tidak memiliki satu pun anak perempuan, dan istrinya pun telah tiada. Dia baik juga terhadap ibuku, tetapi entahlah. Semenjak kehadirannya, ibu lebih sensitif. Ibu berpikiran aku melawannya. Ya, itu paradigma ibu. Ibu tak melihat perjuanganku ini untuk membahagiakannya.
            Tak terasa hari sudah hampir malam. Aku menunggu Rara di depan mobilnya, yang parkir di area parkir khusus mobil. Kabar ibu, sungguh aku tak tahu. Di tengah keasyikan yang membosankan ini, kilat tiba-tiba terpancar di lautan biru di atas kepalaku. Ya Tuhan, aku tak menginginkan petir ini. Petir yang selalu mengingatkan dosa-dosaku pada ibu.

***
Apa?! aku sudah terbaring diatas kasur Rara. Kulihat jam, hah? Jam 7 pagi, tadi malam saat ada kilat, kejadian apa itu? Apa aku hanya bermimpi?
Tidak, masih terlihat kado-kado dari teman kuliahku di lantai. Berarti, aku tidak sedang bermimpi. Rara yang tertidur di sebelahku, terbangun. Letih, terlihat dari wajahnya.
“lo pingsan tadi malam di parkiran kampus.”
“Oh, gitu.  Maaf ngerepotin lu banget, Ra.”
Aku ingat, karena kepalaku terlalu pusing dan rindu kepada ibu, aku tak dapat menopang tubuh indahku ini.
             “tadi semaleman badan lo panas, Re, terus lo ngigo. Begadang nih gua ngompres kepala lu”
“ngigo apaan, Ra? Aaa makasih banget, Ra.”
“kaga jelas, pokoknya ada kalimat ibu ibu gitu”
 “oh, gitu”
             “lo ga hubungin ibu lo, Re?”
  “entah lah, Ra. Anter gua pulang yuk hari ini!”
              “oke, sahabatku”
            Rara mencoba menghiburku, ia berkaraoke di kamarnya dengan lagu-lagu yang menurutku tidak masa kini. Ahahaa. Dia bilang, mudah-mudahan tingkahnya itu mampu membuat moodku kembali ke atas. Ia berhasil, kemudian ia mengantarku pulang. Ra, semoga persahabatan kita sampai jadi nenek-nenek. Dan until die.

***
Tidak ada ibu, kemana ibu? Sama sekali tak ku dengar suaranya di rumah kontrakan mungilku ini. Aku ingin mencium kakinya, meminta maaf kepadanya.
“ibumu kemarin di bawa oleh Gunandi”
 Salah satu tetangga akrab di sebelah kontrakan ibu bilang seperti itu. Mengapa dia membawa ibu? Kemarin dia meneleponku dan tidak membicarakan apa-apa, selain tentang kuliahku. Otakku berpikir keras, aku sempat berpikir negatif tentang Gunandi dan ibu.
“Terima kasih ya, bu”
Aku kembali pergi dengan Rara, dan tidur dikamar Rara lagi dan lagi. Sudah tanggal 21 saja besok. Berarti, lusa tanggal 22 Desember? Hari ibu. Ya, betul. Tetapi sampai saat ini aku tak tahu sama sekali bagaimana kabar ibuku.
            Ku buka handphoneku dan melihat panggilan keluar. Dan aku melihat panggilan tak terjawab dari ibu di tanggal 19 Desember lalu. Berarti, ibu mencariku. Mungkin saja ia ingat hari ulang tahunku. Atau? Ingin marah-marah akan kelakuanku akhir-akhir ini.
Ku telepon kembali nomer ibu, tersambung. Tapi suara ibu pun tak kunjung ku dengar. Kemana ibu? Aku semakin penasaran. Sampai akhirnya, aku tertidur.

***

            Pagi ini, aku berniat mencari ibu ke rumah ayah angkatku. Tapi, kali ini aku tidak diantar Rara. Aku pergi dengan angkutan umum, Rara membekali aku uang.
            “assalamualaikum.wr.wb”
            “wa’allaikumsalam.wr.wb”
            Terlihat pria tampan keluar dari pintu rumah mewah itu, bang Fajar. Anak tunggal keluarga Gunandi. Ia sedang kuliah di jurusan kedokteran. Kata ibu, dia anak yang beragama dan berpendidikan. Jelas, pikir ku, keluarganya sempurna. almarhum ibunya pergi saat usianya 18 tahun. Psikologi anak berasal dari orang tuanya.
          “bang, ada pak Gunandi?”
          “ada, masuklah.”
          Ya tuhan, mengapa hatiku berdegup kencang. Entah, apa yang ku rasakan saat ini. tak bisa ku ungkapkan lewat apapun. Ku berjalan mengikuti bang Fajar menuju kamar tamu. Aku langsung bisa menebak, kalau ibu menginap disini. Tapi mengapa? Tidak biasanya ibu seperti ini.
            Ya Tuhan, aku kaget melihat ibu terbaring lemah di atas kasur mewah pak Gunandi. Dibalut daster murah dan selimut, sungguh ibu sangat kurus. Ada apa? Baru 3 hari aku pergi, ibu sudah begini. Aku hampiri pak Gunandi dan bertanya.
            “pak, ada apa dengan ibu?”
            “kemari lah, kita berbicara di luar.”
            Aku mengikuti langkah pak Gunandi, menuju ruang tamunya. Duduk dan mencoba mendengar apa yang terjadi.
              “ini, ambillah”
            Pak Gunandi memberiku sebuah kado. Aku membukanya, isinya sebuah buku ekonomi makro bekas dan sweater hangat dari rajutan. Dari siapa ini? Di dalamnya ada secarik kertas. Ku baca isinya.
“Aku, wanita yang selama ini melahirkanmu dan membesarkanmu. Meminta maaf atas kekasaran yang selama ini aku lakukan. Sungguh perasaanku sedih, tak bisa memenuhi kebutuhanmu. Hanya buku dari toko bekas dan rajutan buatan tanganku ini, yang hanya bisa ku beri di hari ulang tahunmu. Aku tau, engkau benci denganku , nak. Tapi aku mencintaimu sampai kapan pun. Aku mencoba menghubungimu. Ternyata tak kau angkat. Selama ini aku sembunyikan sesuatu, maafkan ibumu ini, nak. Maafkan. engkau akan mendengarkan semua penjelasan ini langsung dari Gunandi.
Salam cinta dari ibu, selamat ulang tahun.”
 “pak, apa yang ibu sembunyikan selama ini? aku tak mengerti.”
            “aku akan cerita perlahan, Re. Dahulu, ibumu menikah dengan seorang pria keturunan Palembang. Tetapi, orang tua dari ayamu tidak menyukai ibumu. Sehingga ayahmu pergi meninggalkan ibumu.”
            “tak usah bahas ayahku, aku tak pernah memiliki ayah!”
            “tapi aku ayah kandungmu, Re”
            Diam. Hening. Tak percaya. Ku tatap wajah Gunandi. Ayah kandungku? Apa lagi ini? rumit. Aku ingin pingsan. Tetapi rasa ingin tahuku bergejolak.
            “apa maksudmu? Kau berbohong. Aku tak pernah memiliki ayah.”
            “aku tahu kau membenciku. Tapi, maafkan aku. Dahulu aku hanya menuruti mau dari ibuku yang sedang sakit. Maka dari itu aku membantu perekonomianmu saat ini. dengan datang sebagai ayah angkatmu. Karena  aku yakin, kau membenciku.”
          “aku berterimakasih atas kebaikanmu saat ini, Pak. Tapi aku tak pernah merasakan kehadiran  seorang ayah. Bahkan tidak akan pernah.
          Aku pergi dari rumah itu, ibu sakit. Aku mengerti kenapa ibu memarahiku kemarin. Karena aku terlalu membela pak Gunandi, orang yang selama ini sangat jahat denganku dan ibu.
            Hari sudah malam, hujan. Di tengah jalan perumahan ini, aku bebas berjalan. Merasakan sakit yang begitu dalam. Yang harus aku terima. Benar kata orang-orang, hidup itu seperti roda yang berputar. Siap atau tidak, kita harus melaluinya.
            Ternyata, sudah dini hari. Berarti aku harus bermalam di bawah lampu jalanan ini. Tanggal 22 Desember, ku berlari kembali menuju rumah Gunandi. Basah kuyup bajuku ini. Astaga, aku pusing. Aku bingung, apa lagi yang akan terjadi nanti, harus aku terima. Dia ibuku, dia hebat, dia menyembunyikan kebohongan ini demi kebaikanku, mengapa aku meninggalkannya? aku belum meminta maaf padanya.
          Ku buka pintu rumah Gunandi tanpa permisi, lari ke kamar di mana ibu tidur. Dia terbangun kaget. Memandangku dengan senyuman, ku peluk dan menangis di pangkuannya. Ya Tuhan, dosaku kepada ibu. Petir kali ini, menemani tangis bahagiaku dengan ibuku. Ia menangis, dan mengusap kepalaku. Aku menatapnya dengan haru. Meminta maaf berkali-kali, dan ibu hanya mengangguk, lalu memelukku lagi.
            “ ibu, selamat hari tehebat untuk ibu di hadapanku. Aku cinta ibu karena Allah. Maafkan aku, ibu”
            Ibu memelukku. Di hari ibu ini, peluk lah ibu kalian, minta maaf lah kepadanya. Karena setiap hari pasti kita selalu menyakitinya. Lakukan yang terbaik, selama ibumu masih di hadapanmu. tidak hanya tanggal 22 Desember, tapi buatlah setiap hari, adalah hari istimewa untuk seorang Ibu.
Ibu ibu ibu ibu, yang terakhir baru Ayahmu. Ku hampiri Gunandi,  dan memeluknya.
            “sesungguhnya, ini adalah pertama kali aku mendapat pelukan dari seorang ayah”
            Gunandi memelukku erat. Meskipun tidak pernah ada ketentuan tertulis tentang hari ayah, tetaplah berterimakasih kepadanya, karena aturan yang dibuat mereka, yang membuat kita lebih dewasa. Dan ayahku Gunandi, secara tidak langsung telah menanamkan sifat mandiri kepadaku. Aku maafkan dia, biar Tuhan yang menentukan jalan selanjutnya.
           Aku yakin, petir kali ini mendukung semua yang aku perbuat. Di rumah yang hangat ini, penuh dengan kenyataan pahit. Tetapi, tidak akan pernah dengan ibuku. Wanita yang kuat dan berhati mulia. Selamat hari ibu!





        (AYR) 

Selasa, 18 Desember 2012

my self



My name is Ayundayani Rosadi. Name Rosadi was intialized by both of my parent. On 1st January 1994 was borned  by my lovely mom excatly in Jakarta, i am daughter of a family who very proud of me. My father name is Abdi Chaniago SE.MM and my mother name is Rosnely Rachman. I have 2 brothers and 3 sisters. My mother came from Surabaya and my father came from western Sumatra. Currently, our family have been living in bogor since 2008, in a house that is very comfortable and warm. My father has been working as a lecturer at Trisakti University and my mother has been being bussines woman. In my family, upholds the custom fields, namely education come first. Although both of my parents are working, but they are always here when we need them. In my family there is a family day, Sunday is a full day for my family. Before we moved to bogor, we lived in North Jakarta.
When  i was in elementary school, SDN Tugu Utara 15 pagi. I have one friend who up to now, will always be my best friend. She named Febri Ihda Nursyiami, she always makes me thrilled to be  better and more powerful than her. Ami was always called by myself as her nickname, ami currently studying at the University of Indonesia, faculty of computer science, information systems majors.
When i was in junior high school, SMPN 136 in Jakarta. Then i disappointed, because it was not the school which i want. But over time, i began to adapt and could excel in junior high. I began to recognize the nature of different friends, and began studying to be a teenager.
Junior high school had been graduated by my self in 2009. I’ve got the favourite highschool in North Jakarta. SMAN 75 Jakarta, when it was just me and one of my friends together we entered the high school. In high school, i could learn a lot of experience. I thought high school was the most beautiful place. Many new friends, while on the 2nd grade, i went to Bali with my whole generation friends. I thought the most memorable was in high school. While on the 2nd grade, i became a dormitory.
            I have another dearest best friend, her name is Lorencia Tirtasari. I think she is the one who pretty much who give me many lessons. When i was a dormitory girl, every Friday night, loren and i always accompany the SMAN 75 basketball team practiced at Monas. Loren and i was being as the manager of the basketball team. We usually came home very late at night, but from there that i could learn. Which was good to be used and which ones are bad to be discarded. Jakarta life at night, made me understand that we needed religion in our life.
Write is being as my hobby, i have a blog (www.ayundayanirosadi.blogspot.com) . my blog theme is autonomy.lifestyle.world.
I have taken 3 words because it has meaning. I have been being a student at state polythecnic of jakarta, graphics desain and publishing department by majoring publishing, journalism courses.
I was trying to get a high GPA in every semester. When my fifth semesters later, i hope in my last semester i will fluence in the  final task.
I will have been graduated from the polythecnic of jakarta with high GPA and i will have got a good job in one of the mass media.
Being a journalist is capable of grasping the world. And always uphold the truth. Other than that i have another wish, become a child capable of happy parents, a wife and a great  mother, and became one of the hosts of heaven. Amen  (Ayundayani Rosadi)
Diberdayakan oleh Blogger.

Search Box

HALO

Foto saya
Jawa Barat, Bogor, Indonesia
hello, nama gua ayundayani rosadi. buat lebih akrab panggil aja gua yonde. gua sempet SD di SDN 15 pagi Tugu Utara. terus gua sempet SMP juga di SMPN 136 Jakarta Utara. gua juga sempet SMA nih, di SMAN 75 Jakarta Utara. sekarang gua mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Program Studi Jurnalistik. tepatnya dikelas Jurnalistik 1b. gua Announcer di @porosfm (polytechnic radio station) thank you \m/

Pengikut